Perjalanan Napak Tilas Banyuwangi

Mengawali cerita perjalanan napak tilas ke Banyuwangi, sedikit mengenang perjalanan sebelumnya yang pernah saya kunjungi 4 tahun silam. Perjalanan saya saat itu adalah salah satu pengalaman hidup yang tidak akan terlupakan, di mana perjalanan yang saya lakukan sangat berbeda dengan perjalanan biasanya bergaya backpacker. Perjalanan di banyuwangi saat itu saya mendapat pengalaman baru melakukan perjalanan bersama salah satu petinggi aparat setempat, berasa jalan-jalan gaya sultan gitu lah.

Dan kali ini bukan hanya jalan-jalan biasa, melainkan napak tilas di mana saya berkunjung ke Banyuwangi dengan berbagai spot turis terkenalnya mulai dari Gunung Ijen sampai Taman Nasional Baluran, sehingga bisa sedikit mengenang petualngan 4 tahun lalu. Selain itu Banyuwangi juga merupakan destinasi andalan Indonesia yang wajib masuk list destinasi yang harus dikunjungi.

Memulai perjlanan daru Surabaya, saya berangkat dari Stasiun Gubeng menuju stasiun Karang Asem di Banyuwangi, Setibanya di sana perjalanan langsung dilanjutkan menuju Paltidung yang merupakan gerbang masuk pendakian Gunung Ijen. Pesona Gunung Ijen memang sangat terkenal, karena merupakan salah satu keajaiban destinasi nusantara dengan keberadaan blue fire yang hanya ada di dua tempat di dunia. Selain pemandangan alam, panorama ijen menjadi lebih khas dengan keberadaan para penambang belerang yang ikut berbaur dengan wisatawan. 4 tahun berlalu sejak pertama kali mendaki Gunung Ijen, sudah banyak perubahan dan pembaharuan dari banyak aspek di kawasan wisata ini, yang lebih terkesan modern dengan banyak fasilitas kekinian. Sayang, kunjungan kali ini tidak bisa melihat fenomena api biru lagi, karena kendala cuaca yang membuat saya tidak bisa turun menuju kawah.

Melanjutkan misi napak tilas, selepas beristirahat dari lelahnya pendakian Gunung Ijen, Taman Nasional Baluran menjadi destinasi berikutnya yang terkenal juga dengan sebutan Africa van Java. Sama halnya dengan Ijen, Baluran semakin bersolek dengan pengelolaan yang lebih baik, seperti akses jalan yang semakin bagus lebih memudahkan wisatawan menikmati pesonanya. Kunjungan kali ini selain untuk napak tilas, saya ingin mencari spot lain yang bisa dijelajah selain panorama sabana, gunung dan pantai dengan tanaman bakau yang ada di Kawasan taman nasional ini. Misi ini pun akhirnya terwujud dengan menemukan spot foto panorama hutan setengah terbakar membuat suasana seperti di hutan mati. Penasaran bagaimana pemandangannya, saat berkunjung nanti perhatikan sisi jalan sebelum sampai area sabana.

Perjalanan napak tilas berikutnya adalah menikmati ketenangan Pantai Watu Dodol dengan keberadaan rumah apungnya sebagai sarana budidaya ikan hiu yang menjadi daya Tarik Kawasan ini. Berkunjung menjelang senja, membuat suasana semakin tenang mendengar suara deburan ombak yang khas dengan pemandangan kapal-kapal yang lewat dan bersandar di pinggir pantai. Melengkapi perjalanan Napak tilas Banyuwangi kali ini, saya disuguhnya pementasan budaya dan kearifan lokal masyarakat Banyuwangi dalam acara Banywangi Ethno Carnival yang merupakan salah satu agenda dinas pariwisata Banyuwangi untuk ajang expo ekonomi kreatif dan pariwisata. Selain itu, akhirnya bisa merasakan kelezatan sego tempong khas Banyuwangi yang baru sempat mencicipinya sekarang. Tempat kuliner yang saya coba adalah Sego Tempong Mbok Wah yang ada di dekat pusat kota Banyuwangi. Selamat Menjelajah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: