Safari Ramadhan: Cerita dari Masjid Al-Noor Hanoi

Assalamualaikum, bagaimana ibadah puasanya kawan-kawan? Tidak terasa sudah sampai di akhir bulan Ramadhan, Semoga Ibadah kita semua diterima Allah Swt. dan selalu diberikan keberkah Idul Fitri di tengah situasi pandemic covid-19, Aamiin.

Melanjutkan cerita sebelumnya, saya bercerita mengenai masjid yang ada di Kota Kyoto, Jepang. Safari Ramadhan selanjutnya akan bercerita dari Masjid yang ada di Ibu Kota Vietnam, Masjid Al-Noor Hanoi.

Masjid Al-Noor atau lebih dikenal dengan nama Hanoi Mosque, terletak di Hoan Kiem, Hanoi, tepatnya berada di kawasan kota tua Prancis atau old French Quarter Hanoi, lokasinya tidak jauh dari Hotel Galaxy dan pasar Dong Xuan. Masjid Al-Noor ini diperkirakan sudah berdiri sekitar tahun 1970an, sehingga menjadikannya salah satu masjid tua, dan merupakan satu satunya masjid di kota Hanoi (Islamicfinder).

Masjid Al-Noor merupakan titik sentral penyiaran agama Islam di kota Hanoi, sebagai satu-satunya masjid membuat jemaah yang datang merupakan perkumpulan dari berbagai kalangan umat muslim dari berbagai kelompok, suku, dan warga dari berbagai negara yang tinggal di Hanoi, termasuk Indonesia.

Menurut informasi sejarah Masjid Al-Noor di bangun oleh para pedagang muslim dari Bombai (India), Karachi (Pakistan), dan Kalkuta di sekitar tahun 1930-an. Kelompok pedagang muslim ini rata rata merupakan pedagang sukses yang kaya raya, sehingga mereka membangun Masjid Al-Noor di kota Hanoi dan beberapa masjid lainnya di Vietnam bagian Selatan sekitar tahun 1930-an.

Melihat bentuk bangunan masjid Al-Noor dengan gaya kolonial Eropa, membuat Jemaah tidak akan menyangkan ini adalah banguanan masjid, apalagi dengan bentuk menara yang lebih mirip bangunan pagoda. Namun keraguan itu terjawab dengan tulisan nama yang ada di gerbang masuk masjid yang ditulis dalam tiga bahasa, bahasa Arab, Inggris dan Vietnam yang terlihat dari pinggir jalan langsung.

Masjid Al-Noor terbuka untuk pengunjung muslim maupun non muslim, dengan adanya panduan jelas yang disiapkan pengurus di pintu masuk untuk memandu pengunjung terutama bagi non muslim, termasuk tata cara berpakaian, tata krama masuk ke masjid, tata krama selama berkunjung sampai meninggalkan masjid. Kini masjid tua ini tetap ramai jemaah terutama jemaah dari kantor kantor kedutaan negara sahabat seperti Malaysia, Indonesia, India, Pakistan, Mesir, Lebanon, Bangladesh dan negara lainnya yang mencapai sekitar 200 jemaah berbaur dengan muslim asli setempat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: