Tradisi Ritual Kematian: Tana Toraja (Part 4)

Tana Toraja merupakan salah satu destinasi nusantara yang dikenal memiliki berbagai macam warisan budaya, kearifan lokal dan tradisinya yang sangat unik dan kaya. Warisan budaya dari Tana Toraja menjadi bagian dari kegiatan pariwisata di wilayah Tana Toraja, sehingga menjadi salah satu destinasi yang wajib dikunjungi ketika berkunjung ke Sulawesi Selatan. Salah satu yang menarik dari berbagai traidisi budaya di Toraja adalah upcara dan ritual yang berhubungan dengan kematian.

DSC00494

Upacara Rambu Solo merupakan salah satu ritual budaya yang populer di kalangan wisatawan yang berkunjung ke Toraja. Upacara kematian yang diselenggarakan dengan meriah dan menghabiskan dana yang cukup besar itu menjadi daya tarik di kalangan wisatawan lokal maupun asing. Selain Rambu Solo, ada satu lagi ritual dari Toraja yang masih berkaitan dengan kematian yang sayang untuk dilewatkan ketika berkunjung ke Tana Toraja. Upacara Ma’Nene namanya, merupakan ritual membersihkan jasad para leluhur yang sudah ratusan tahun meninggal dunia. Selain pembersihan jasad para leluhur orang Toraja, Ma’Nene juga dilakukan untuk membersihkan dan merapihkan makam atau kuburan orang Toraja yang terjatuh, rusak atau alasan lainnya. Ritual ini dilakukan setiap 3-4 tahun sekali setelah masa panen, karena setiap melakukan sesuatu apaun di pemakaman harus melalui upacara. Akan tetapi di beberapa daerah seperti Desa Pangala dan Baruppu masih melaksanakannya secara rutin tiap tahun.

dsc00536.jpg

Prosesi ritual Ma’Nene dimulai dengan para anggota keluarga yang datang ke Patane untuk mengambil jasad anggota keluarga mereka yang telah meninggal. Patane adalah sebuah kuburan keluarga khas suku Toraja yang bentuknya menyerupai rumah. Ratusan jasad yang telah di makamkan di dalam patane akan dibuka kembali, dimana kondisi setiap jasad yang tersimpan dalam keadaan utuh karena sebelumnya diawetkan. Sebelum membuka peti dan mengangkat jasad, tetua adat dengan sebutan Ne’ Tomina Lumba, akan membacakan doa dalam Bahasa Toraja kuno serta memohon izin kepada leluhur agar masyarakat mendapat rahmat keberkahan setiap musim tanam hingga panen. Ne’tomina sendiri merupakan gelar adat yang diberikan kepada tetua kampung, ia adalah orang yang dituakan dan juga berperan sebagai imam atau pendeta.

Setelah proses dikeluarkannya jasad dari kuburan, kemudian jasad dibersihkan yang dilakukan pihak keluarga dengan menggunakan kuas. Pakaian yang dikenakan jasad itu diganti dengan kain, salah satunya kain tenun toraja atau pakaian yang baru setelah jasad selesai dibersihkan. Sebelum dimasukkan kembali ke dalam peti, jasad akan di jemur beberapa menit di bawah sinar matahari untuk dikeringkan, hal ini dilakukan agar jasad tetap awet.

DSC00534

Ritual Ma’Nene ini dilakukan secara serempak satu keluarga atau bahkan sampai serempak oleh satu desa, sehingga upacara berlangsung cukup panjang. Ritual ini biasa dilakukan setelah masa panen berlangsung, kira-kira di bulan Agustus akhir. Pertimbangannya karena pada umumnya para keluarga yang merantau ke luar kota akan pulag ke kampungnya, sehingga semua keluarga dapat hadir untuk melakukan prosesi Ma’Nene ini bersama-sama. Rangkaian prosesi Ma’Nene ditutup dengan berkumpulnya anggota keluarga di rumah adat Tongkonan untuk beribadah bersama.

Ritual Ma’Nene lebih dari sekedar membersihkan dan merapihkan jasad, tujuan dilakukannya ritual ini agar keluarga yang berada di perantauan, dapat datang untuk menjenguk orang tua atau Nene To’dolo (moyang mereka). Selain itu, ritual ini juga untuk mempererat hubungan orang yang berada di perantauan dengan orang tua yang masih hidup ataupun yang sudah meninggal. Selain itu, ritual ini juga mencerminkan betapa pentingnya hubungan antar anggota keluarga bagi masyarakat Toraja, terlebih bagi sanak saudara yang telah terlebih dahulu meninggal dunia. Masyarakat Toraja menunjukkan hubungan antar keluarga yang tak terputus walaupun telah dipisahkan oleh kematian. Ritual ini juga digunakan untuk memperkenalkan anggota-anggota keluarga yang muda dengan para leluhurnya.

Sumber: Wawancara Penulis, IndonesiaKaya dan Sumber Lain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: