Adat Budaya Gorontalo: Salam Bubohu (Part III)

Menjelajah suatu daerah memang disarankan untuk dapat mencoba dan mengetahui kearifan lokal yang ada di tempat tersebut. Adat, tradisi, budaya merupakan kekayaan negeri ini, yang akan sangat saying jika tidak diketahui. Puas menikmati suguhan alam Bumi Serambi Madinah, tujuan terakhir saya di Gorontalo adalah destinasi budaya, salah satunya Bubohu.

Sebagai provinsi dengan mayoritas muslim, Gorontalo memiliki destinasi yang menawarkan wisata pengalaman rohani bernuansa islam. Bahkan pemerintah daerah setempat telah mencanangkan kota “Bumi Maleo” ini sebagai destinasi wisata halal (halal tourism) setelah Lombok, sehingga diharapkan mampu menarik wisatawan domestik dan internasional, khususnya Timur Tengah. Salah satu destinasi yang terkenal adalah Desa Adat Bubohu, atau juga dikenal dengan nama Desa Adat Bongo.

DSC00307

Desa Bobuho atau yang lebih dikenal dengan nama Taman Wisata Bongo merupakan tempat wisata religius yang terletak di Kecamatan Batuda’a Pantai, Gorontalo. Menuju Desa Bubohu dapat ditempuh dalam waktu 20 menit atau dengan jarak 10 km dari pusat Kota Gorontalo dengan jalur darat, atau yang suka tantangan bisa menggunakan perahu masyarakat sambil memandang keindahan Gorontalo dari arah laut Tomini.

Desa ini diapit oleh 2 bentang lahan yaitu sebuah bukit karst besar yang biasa disebut Gunung Tidur dan hamparan Teluk Tomini yang membiru. “Bongo” adalah bahasa Gorontalo dari Buah Kelapa. Sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai nelayan.

DSC00263

Penduduk di desa religi Gorontalo ini dominan beragama muslim, mereka sengaja membangun desa Bongo sebagai desa religi yang bertujuan menarik perhatian wisatawan domestik maupun mancanegara. Saat berkunjung ke desa religi ini, Anda akan disambut dengan senyum ramah penduduk setempat. Lingkungan desa religi Gorontalo ini sangat asri dan nyaman, ditambah dengan pemandangan alam yang dapat menyejukan mata. Pengunjung yang datang harus memasukkan kelereng yang sudah disediakan ke kotak, tujuannya untuk menghitung jumlah pengunjung.

Desa ini juga dikenal dengan tradisi tua dalam bentuk upacara Walima yang dilaksanakan setiap Maulid Nabi Muhammad SAW. Mengiringi tradisi tersebut, seluruh masyarakat mengarak kue Kolombengi ke masjid dan dibagi kepada yang hadir. Pengunjung dapat dengan mudah menemukan replika kue tersebut yang menjadi hiasan dan ciri khas desa.

Masyarakat Desa Bongo terkenal religius,  kental dengan nilai-nilai agama Islam. Di desa ini terdapat pesantren Alam Bubohu yang didirikan oleh  Yosep Tahir Ma’ruf yang lebih dikenal dengan sebutan Yotama. Pesantren alam unik karena santrinya tumbuhan, hewan dan benda mati di sekitarnya. Di tempat ini pula, kita bisa berinteraksi dengan burung-burung dara yang selalu menyambut ramah pengunjung.

DSC00306

Di sini juga ada Wombohe (pondok) khas Bongo dengan kolam renang yang jernih. Di bagian bawah pondok memiliki ruang terbuka yang digunakan untuk bercengkerama sambil menikmati udara segar, sementara bagian atasnya dapat digunakan untuk beristirahat.

Fosil-fosil kayu berusia jutaan tahun juga bisa disaksikan di Bongo. Fosil ini adalah guratan perjalanan alam Gorontalo. Pengunjung bisa melihat langsung ribuan fosil dan menyerap informasi tentang benda ini. Sebab ada papan penjelasan yang menerangkan proses terjadinya fosil di Gorontalo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: