Unsur Budaya Sunda: Sistem Bahasa dan Kesenian Masyarakat di Kampung Naga

Sistem bahasa dan kesenian dalam masyarakat merupakan salah satu unsur penting dalam suatu kebudayaan. Bahasa sebagai alat komunikasi dan kesenian sebagai hasil karya cipta masyarakat merupakan simbol dan identitas kebudayaan masyarakat kampung naga.

Baca Unsur Budaya Sunda: Sistem Teknologi dan Peralatan Masyarakat di Kampung Naga

Bahasa yang digunakan masyarakat kampung naga adalah bahasa sunda. Tetapi, warga kampung naga juga bisa berbahasa indonesia dan untuk para pemandu wisata (guide) sudah bisa berbahasa inggris terutama ketika berkomunikasi dengan wisatawan asing yang datang. Namun, jika wisatawan lokal yang datang berkunjung, mereka berkomunikasi menggunakan bahasa Sunda atau bahasa Indonesia.

Kesenian kampung naga terdapat beberapa macam yang menjadi identitas budaya yang khas, diantaranya terbang sejak, terbang gembrung, angklung, beluk dan rengkong. Terbang Sejak merupakan pertunjukan musik yang menggunakan alat seperti rebana, atau nampah/nyiru yang dipentaskan pada sunatan masal, pernikahan, dan perayaan hari kemerdekaan Indonesia. Terbang Gembrung hampir mirip dengan tagonian yang banyak dijumpai di daerah-daerah pusat penyebaran Islam. Perbedaannya terdapat pada bentuk dan ukuran, terbang gembrung di Kampung Naga lebih besar dan irama pukulannya lebih sederhana. Terbang gembrung biasanya dimainkan oleh kaum laki-laki yang dipentaskan pada malam hari menjelang hari raya idul fitri atau lebaran dan idul adha di iringi takbir serta dilaksanakan di dalam ruang masjid atau lapangan terbuka di kawasan Kampung Naga.

Angklung digunakan untuk mengiringi jempana pada perayaan hari kemerdekaan Indonesia, sunatan masal, dan mengiringi peserta upacara gusaran. Sebagai tradisi menghormati Nyi Pohaci, angklung dibunyikan untuk mengiringi hasil panen (padi) dari sawah ke kampung. Biasanya angklung dimainkan oleh laki-laki. Beluk dan Rengkong merupakan dua jenis kesenian yang sudah jarang dijumpai. Seni Beluk merupakan salah satu tembang Sunda yang banyak menggunakan nada-nada tinggi. Pemainnya terdiri dari empat orang atau lebih, yang secara bergiliran menyanyikan syair dari wawacan. Seni beluk biasanya digelar pada malam sebelum berangkat tidur, bertempat di rumah tetangga atau keluarga yang baru melahirkan. Di bawah temaramnya sinar lampu teplok, beluk dinyanyikan di ruang depan (tepas imah). Pemain atau pendengar duduk santai mengikuti acara itu.

Tentang kesenian masyarakat Kampung Naga, terdapat aturan terkait dengan pantangan atau tabu ketika mengadakan pertunjukan jenis kesenian dari luar Kampung Naga seperti wayang golek, dangdut, pencak silat, dan kesenian yang lain yang mempergunakan waditra goong. Namun, bagi masyarakat Kampung Naga yang hendak menonton kesenian wayang, pencak silat, dan sebagainya diperbolehkan, selama kesenian tersebut dipertunjukan di luar wilayah Kampung Naga.

Baca Budaya Sunda di Kampung Naga

One thought on “Unsur Budaya Sunda: Sistem Bahasa dan Kesenian Masyarakat di Kampung Naga

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: