Unsur Budaya Sunda: Sistem Kepercayaan dan Pengetahuan di Kampung Naga

Kepercayaan agama dan pengetahuan merupakan salah satu unsur penting dalam suatu kebudayaan. Keduanya dapat saling bersangkutan, saling mendukung atau bahkan saling bertentangan dalam pelaksanaan kehidupan di masyarakat.

Meneruskan tulisan saya sebelumnya tentang kebudayaan sunda di Kampung Naga, saya akan bahas bagaimana unsur-unsur budaya sunda hidup lestari dalam kehidupan sosial di Kampung Naga.

Kepercayaan agama yang dianut oleh masyarakat Kampung Naga adalah agama Islam, karena wilayah ini merupakah salah satu tempat penyebaran Islam pada masa kewalian Syeh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati oleh seorang abdinya yang bernama Singaparna. Selain kepercayaan terhadap agama, masyarakat Kampung Naga tetap menjaga kepercayaan dari warisan budaya leluhurnya. Menurut kepercayaan masyarakat Kampung Naga, dengan menjalankan adat-istiadat dan tradisi warisan nenek moyang berarti menghormati karuhun (para leluhur).

Segala sesuatu yang datang dan tidak dilakukan karuhun Kampung Naga, maka akan dianggap sesuatu yang tabu. Tabu meruakan pantangan bagi masyarakat Kampung Naga, hal ini masih dilaksanakan dengan patuh khususnya dalam aktivitas kehidupan sehari-hari. Apabila masyarakat melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran dari karuhun berarti melanggar adat dan tidak menghormati, hal ini diyakini akan menimbulkan malapetaka.

Kepercayaan lain yang diyakini masyarakat Kampung Naga adalah kepercayaan mereka kepada mahluk halus yang masih dipegang kuat. Masyarakat percaya dengan adanya beberapa mahluk halus, diantaranya “jurig cai”, yaitu mahluk halus yang menempati air atau sungai terutama bagian sungai yang dalam. Kemudian ada “ririwa” yaitu mahluk halus yang senang mengganggu atau menakut-nakuti manusia pada malam hari. Ada pula yang disebut “kunti anak” yaitu mahluk halus yang berasal dari perempuan hamil yang meninggal dunia dan suka mengganggu wanita yang sedang atau akan melahirkan.

Sedangkan tempat yang dijadikan tempat tinggal mahluk halus tersebut oleh masyarakat Kampung Naga disebut sebagai tempat yang angker atau sanget. Demikian juga tempat-tempat seperti makam Sembah Eyang Singaparna, Bumi Ageung dan masjid merupakan tempat yang dipandang suci bagi masyarakat Kampung Naga.

Sistem pengetahuan Kampung Naga didasarkan pada proses pembelajaran dengan cara memberikan contohkan langsung oleh sesepuh kepada keturunannya, tidak dengan cara mengajari atau menasehati. Secara formal, pendidikan masyarakat Kampung Naga rata-rata hanya tamat sekolah tingkat dasar atau SD, kalau pun dilanjutkan ke SMP hingga SMA hanya ada 1 atau 2 orang. Hal ini tentunya memberikan pengaruh dalam proses pemahaman pada kepercayaan yang dianut oleh masyarakat dalam kehidupan sosialnya.

 

Baca juga Tentang Budaya Sunda

2 thoughts on “Unsur Budaya Sunda: Sistem Kepercayaan dan Pengetahuan di Kampung Naga

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: