Mahameru, Perjuangan Menggapai Mimpi

“Mahameru telah mengajarkanku arti sebuah kerja keras dalam menggapai mimpi, cita dan keinginan. Perjalanan dan medan yang berat merupakan teman baik sesorang untuk mencapai keindahan, keindahan kehidupan.”

Kegiatan mendaki gunung menurut sekelompok orang dianggap sebagai kegiatan yang melelahkan, dan hanya membuat badan menjadi sakit. Namun tidak demikian bagi mereka yang menyukai kegiatan alam, mendaki gunung adalah kegiatan yang menyenangkan. Dengan mendaki gunung, mereka dapat menemukan jati diri dan lebih bersyukur atas kehidupan yang dimilikinyanya.

Mahameru merupakan puncak dari pegunungan Semeru yang terletak di Provinsi Jawa Timur. Gunung yang menjadi salah satu tujuan para pendaki ini memiliki ketinggian 3676 mdpl (meter di atas permukaan laut) dan merupakan gunung tertinggi di pulau Jawa. Sebagai gunung tertinggi, medan yang disediakan cukup menantang untuk didaki. Perlu persiapan matang dan mental yang kuat untuk sampai di puncak yang menjadi idaman para pendaki ini.

Sebuah penghargaan bagi saya dapat diberikan kesempatan untuk mendaki gunung semeru. Bagi saya pengalaman mendaki Semeru dan dapat berdiri di puncak Mahameru adalah pengalaman yang sangat berkesan dan anugerah yang terindah yang diberikan Tuhan. Banyak pelajaran yang saya dapatkan, pelajaran yang membuat saya lebih memaknai hidup dan menghargai lingkungan sekitar seperti menjaga alam Indonesia yang indah.

Untuk mencapai pos pendakian Semeru, kita masuk melalui kawasan Pasar Tumpeng untuk mencari angkutan yang akan membawa kita menuju pos pendakian. Terdapat beberapa angkutan yang dapat dipilih, mulai dari mobil jeep hingga truk yang masing-masing memiliki harga yang berbeda. Sesampainya di pos pendakian di kawasan Ranupane petugas akan meminta data para pendaki dan perlengkapan pendakian sebelum memulai pendakian. Selain itu, para pendaki juga akan diberikan briefing oleh petugas terkait gambaran jalur dan situasi-situasi yang mungkin akan dijumpai saat mendaki. Briefing ini harap penjadi perhatian untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Saat mulai pendakian, tim kami berangkat dari Ranupane sekitar pukul 14.00 WIB. Cuaca yang panas cukup teratasi dengan vegetasi pepohonan yang rindang dan pemandangan perbukitan yang dihiasi tanama sayur yang hijau. Selama pendakian kita banyak menjumpai pendaki lain baik yang turun Maupin yang bareng-bareng untuk naik. Saya cukup menikmati perjalanan, sampai tas cerier yang berat pun tak terasa.

Sekitar pukul 19.00 WIB, kami sampai di Ranu Kumbolo dengan ketinggian 2400 mdpl. Dinginnya udara yang menusuk tulang membuat kami memutuskan untuk mendirikan tenda dan membuat perapian di sekitar camping ground Ranu Kumbolo. Pemandangan malam di Ranu Kumbolo menemai waktu istirahat kami setelah melakukan perjalanan seharian. Malam yang semakin larut membuat udara di sekitar semakin menusuk, sampai mengganggu waktu tidur kami. Pagi pun dating bagunkan mimpi-mimpi kami. Udara yang masih dingin membuat tetesan air embun di tenda berubah menjadi pecahan-pecahan es yang membuat badan enggan keluar dari sleeping bag. Sembari menunggu matahari terbit, yang katanya sunsire di ranu kumbolo sagat indah. Beberapa dari kami membuat perapian dan memasak untuk sarapan.

Perjalanan kami lanjutkan menuju Kalimati pos terakhir sebelum puncak Mahameru. Di tengah perjalanan kami dimanjakan dengan pemandagan padang lavender dan pohon-pohon yang menjulang tinggi. Sesampainya di kali mati, puncak mahameru terlihat jelas di depan kami. Gagahnya Mahameru membuat kami takjub dengan ciptaan Tuhan yang Maha indah. Dan di ketinggian 2900 mdpl ini kami mendirikan tenda dan beristirahat sebelum melakukan pendakian menuju puncak Mahameru. Di kawasan Kali Mati ini terdapat mata air yag disebut Kali Mani yang jaraknya lumayan jauh dari camping ground.

Tepat pukul 22.00 WIB (18/8/2014), kami mulai mendaki puncak Mahamru. Langit malam Semeru yang indah dengan taburan bintang dan cahaya bulan yang cantik menemani perjalanan kami. Kami berjalan bersama banyak orang menuju puncak, namun seiring berjalannya perjalanan sedikit demi sedikit berguguran di tengah jalan. Medan pasir yang menyulitkan pendaki cukup menantang kami untuk menaklukannya. Sesekali batu-batu dengan berbagai ukuran jatuh dari atas menimpa para pendaki, situasi yang cukup membahayakan selama pendakian menuju puncak. Yang perlu diperhatikan oleh para pendaki adalah memilih pijakan kaki yang tepat, jangan sampai berpijak pada kaki yang dapat melepaskan batu yang dapat membahayakan pendaki lain.

Pemandangan pegunungan Semeru dan Bromo memanjakan mata kami di atas ketinggian sebelum puncak. Lembayung matahari terbit semakin mempercantik pemandangan yang jadi pengobat lelah. Sunrise yang sempurna di balik tebing-tebing puncak pun memberikan semangat kami untuk terus mendaki menuju puncak. Suasana mulai terang, keindahan semakin terlihat memanjakan mata mengantarkan langkahku berdiri di puncak tertinggi jawa ini. Pengalaman yang sangat berharga menjadi salah satu pendaki yang mampu sampai ke puncak. Di puncak kami bertemu para pendaki local hingga turis mancanegara, moment itu kami abadikan agar keindahan ini tidak akan terlupakan. (Ad/)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: